Ziarah kubur
Fenomena Ziarah kubur banyak diperdebatkan oleh beragam
kalangan ummat islam, apa sih aturan ziarah kubur sesungguhnya, benarkah ada
faktor bid’ah dan kemusyrikannya dan apa pula manfaat yang diperoleh dari
ziarah kubur.
Sabda Nabi dalam riwayat Imam Turmudzi :
قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ
زِيَارَةِ القُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ
فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا
فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ
“Sungguh dahulu aku melarang kalian
untuk berziarah kubur. Kini telah diijinkan bagi Muhammad untuk berziarah ke
kubur ibunya. Karenanya berziarah kuburlah kalian, karena sesungguhnya ziarah
kubur bisa mengingatkan akan akhirat.”
Dalam riwayat Imam Muslim Nabi bersabda :
فَزُورُوا
الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
“Karenanya berziarah kuburlah
kalian, karena hakekatnya ziarah kubur itu bisa mengingatkan pada kematian.”
Berdasar pada hadits di atas kita bisa peroleh beberapa pembelajaran
bahwa pada mulanya ziarah kubur itu dilarang oleh Nabi namun dikemudian hari
Nabi memperkenankan untuk mengerjakannya. Ziarah kubur juga bisa menjadikan kita
teringat akan kematian dan juga kehidupan di akhirat, bahwa ia pada saatnya
kelak juga akan mati dan mengalami segala yang ada di alam barzah dan akhirat.
Dalam beberapa riwayat bahwa Rasulullah pernah berziarah ke
makam ibundanya Sayidatina Aminah. Nabi juga berziarah ke makam Baqi’ untuk menziarahi
ahli kubur para sahabat yang gugur ketika perang Badar dan Uhud.
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى
وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ
“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallama pernah berziarah ke kubur ibundanya, karenanya beliau menangis dan
menjadikan orang di sekitarnya menangis.”
Imam Malik dalam Muwatho’nya juga meriwayatkan:
إِنِّي
بُعِثْتُ إِلَى أَهْلِ الْبَقِيعِ
لِأُصَلِّيَ عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya aku
diutus (untuk berziarah) ke ahlul baqi’ untuk mendoakan mereka.”
Di Indonesia beberapa besar masyarakat muslim mengerjakan
ziarah kubur dengan pelbagai ragam motivasi. Ada di antara mereka yang aktif
berziarah kubur ke makam orang tua tiap-tiap hari tertentu untuk berkirim do’a,
ada juga yang pada bulan-bulan tertentu secara rombongan berziarah ke makam
para wali dan kiai dengan tujuan tabarruk, dan lain sebagainya.
Telah digambarkan oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya
Nashaihul ‘Ibad bahwa ada empat motivasi orang melaksanakan ziarah kubur:
Tradisi pertama, motivasi ziarah kubur dengan tujuan untuk mengingat
mati dan akhirat. Ziarah dengan motivasi ini bisa cuma dengan mengamati kuburan
atau komplek pemakaman saja tanpa mesti tahu siapa yang bersemayam di dalam
kuburan. Tak mesti kuburan orang islam,
malahan kuburan non islam sekalipun bisa menjadi sarana untuk menghasilkan
seorang mengingat akan kematian dan kehidupan akhirat yang pada saatnya nanti
akan ia alami.
Tradisi kedua, motivasi ziarah kubur dengan tujuan untuk
mendoakan orang yang ada di dalam kuburan. Berdasarkan Syekh Nawawi ziarah
dengan tujuan ini disunahkan bagi tiap-tiap muslim. Tentunya kuburan yang
dikunjungi juga kuburan yang di dalamnya bersemayam jenazah orang muslim, malahan
tak kudu kuburan keluarga sendiri.
Di negara kita indonesia
ada sebagian tempat} yang memiliki kebiasaan di mana pada waktu-waktu
tertentu umumnya sehari sebelum puasa Ramadhon dan sehari sebelum hari raya
idul fitri masyarakat kampung berkumpul di satu komplek pemakaman untuk
bersama-sama mendo’akan ahli kubur yang ada di komplek tersebut, baik ahli kubur
itu keluarga sendiri ataupun orang lain.
Ada juga kebiasaan dimana kerabat ahli kubur mengundang
tetangga-tetangga dekatnya untuk mendoakan
ahli kuburnya di komplek pemakaman, kebiasaan/kultur ini dijawa umum disebut
dengan selametan atau ngariung (Sunda).
Tradisi ketiga, motivasi ziarah kubur untuk tabarruk (ngalap
barokah). Ziarah dengan tujuan ini disunahkan dengan mengunjungi makam orang-orang
yang diketahui bagus pada masa hidupnya atau lebih spesifiknya makam wali-wali
Allah.
Ziarah dengan motivasi ini juga betul-betul kerap kali
dikerjakan oleh masyarakat muslim di Indonesia lebih-lebih warga Nahdliyin.
Pada waktu-waktu tertentu mereka mengadakan rombongan ziarah ke makam para wali
dan para kiai yang dipandang memiliki kedekatan dengan Allah dan berjasa dalam
berdakwah menebarkan agama Islam dibumi nusantara.
Dan yang keempat, motivasi ziarah kubur untuk memenuhi hak ahli
kubur yang diziarahi, seperti ziarah ke makam orang tua.
Sepatutnya ini kerap
kali terjadi dipedesaan tiap kamis petang selepas shalat ashar atau hari jum’at
selepas shalat jum’at tetapi untuk masyarakat kota lazimnya hari ahad atau hari
libur kerja yang biasa disebut dengan istilah nyekar.
Dari artikel singkat di atas, supaya tak memunculkan kemusyrikan ziarah kubur dikerjakan sesuai nasihat syari’at,
Cuma pada Allah lah tempat kita meminta
tanpa ada motivasi-motivasi lain yang bertentangan dengan apa yang dididik
oleh agama melewati para ulama, sebab ulama ialah pewaris para Nabi.
sedikit penjelasan perihal
ziarah kubur semoga memberikan kemanfaatan bagi kita seluruhnya.
Komentar
Posting Komentar